Laskar Pelangi: Sepotong Ensiklopedi dan Potret Mimpi-Mimpi

Setelah Nagabonar Jadi 2, inilah film lokal paling spektakuler bagi saya. Ruh semangat pantang menyerah untuk sekolah, yang bagi masyarakat miskin hanyalah mimpi tak-terwujudkan. Di film ini dilukiskan penuh gelora, murni, syahdu dan inspiratif. Kisah ini membalikkan prediksi manusia atas nasib, bahwa mimpi bukanlah sesuatu yang mengawang-awang saja, tapi bisa diwujudkan dengan tekad yang kuat. Potret jatuh bangun 10 anak-anak miskin Melayu dan guru-gurunya yang luar biasa adalah cermin betapa digdayanya negara ini sebenarnya.

Pembukaan film berupa narasi tokoh Ikal yang telah dewasa (Lukman Sardi) saat ia pulang ke tanah kelahirannya, Kampong Gantong, Belitong. Ia melayangkan pikiran menuju kenangan tak terlupakan di masa kecilnya dulu, yakni hari pertamanya masuk SD. Saat itu suasana harap-harap cemas tampak di SD Muhammadiyah, sekolah harapan terakhir kaum marjinal Gantong bagi anak-anak mereka. Masih kurang 1 orang murid lagi untuk menggenapi jumlah 10 sesuai ketentuan Dinas Pendidikan setempat, atau sekolah tersebut harus ditutup. Lalu keajaiban terjadi ketika seorang anak cacat mental Harun, masuk sekolah itu dan menyelamatkan mereka semua. 5 tahun kemudian, berbagai peristiwa luar biasa mengoreskan tekad di hati seorang Ikal untuk berjuang meraih pendidikan.

Film ini diangkat dari novel mega best-seller berjudul sama yang ditulis Andrea Hirata sebagai semi-memoar perjalanan hidupnya. Riri Riza dan Mira Lesmana menyederhanakan bahasa novelnya agar film ini dapat dinikmati pula oleh anak-anak. Hal tersebut merupakan suatu keputusan tepat, walaupun beberapa pihak mengatakan film ini memangkas keindahan novelnya. Bagi Andrea, proyek ini bukan bertujuan sekedar mengangkat novel ke film, melainkan untuk memperluas jangkauan massa dalam menikmati dan mengambil hikmah kisah ini. Karena film adalah media yang lebih universal daripada buku, sebuah karya sastra pula! Bagi saya, sebagai penderita penyakit gila no.13, yaitu obsesif-kompulsif pada novel Laskar Pelangi, cukup puas dengan film ini. Ada beberapa kekurangan memang, tapi kelebihan dan keindahannya menyingkirkan pikiran skeptis tersebut.

Keputusan Miles Production mengambil aktor cilik asli dari Belitong sangat tepat. Salut dan sungguh salut untuk trio Ikal (Zulfanny),Mahar (Verrys) dan Lintang (Verdian) yang bermain sangat-sangat bagus. Mereka masuk dalam karakter masing-masing dengan luwes, alami, brilian! Cut Mini sebagai Bu Muslimah dan Ikranegara sebagai Pak Harfan bermain sepenuh jiwa. Mereka telah menitipkan sebagian hatinya di Belitong.

Adapun karakter-karakter tambahan disini, Pak Zulkarnaen (Slamet Rahardjo) dan Bakri (Teuku Rifki Wikana), bermain bagus dan tujuan keberadaan karakternya jelas. Lain halnya dengan Tora Sudiro, yang bila ditiadakan justru menambah nilai film ini. Alex Komang (ayah Lintang) yang mucul tidak lebih dari 4 scene bermain ciamik. Begitu pula dengan Jajang C. Noer (istri Pak Harfan), Rieke Dyah Pitaloka (ibu Ikal) dan Ario Bayu (Lintang dewasa), mereka bagus. Namun Mathias Muchus (ayah Ikal) bagi saya masih terlalu intelek sebagai seorang kuli timah.

Saya mencatat kelemahan ada pada pemeran Sahara, A Kiong, dan Flo. Untunglah peran mereka tidak signifikan sehingga tertutup oleh anak-anak yang lain. Pemeran Kucai, Borek, Syahdan dan Trapani, yang memang tidak ditonjolkan untuk membuat cerita terfokus pada Ikal-Lintang-Mahar, bermain bagus. Salut!

Ada kekurangan pada eksekusi adegan karnaval 17 Agustus, terkesan kurang megah. Namun jalan untuk sampai pada pertunjukan ini, terutama tingkah ganjil Mahar mencari inspirasi berhasil mengocok perut. Mahar bermain sangat cool, sombong, tapi tetap loveable. Jatuh cinta saya dengan trade-mark ’Boi’-nya. Love it! Oya, jangan lewatkan adegan ’Bunga Seroja’ disini. Improvisasi yang lucu tiada tara!

Applaus untuk Ikal, yang menurut pengakuannya sendiri bahwa adegan tersulitnya adalah ’pacaran dengan A Ling’, justru menurut saya sangat berhasil. Saya sebenarnya tidak terlalu respek dengan bab ini di novelnya, tapi di film, ini adalah salah satu part favorit saya. Segala unsur untuk membuat sang ’kuku cantik’ jadi lebay, sah-sah saja kiranya, karena memang bagi Ikal yang jatuh cinta. Saat itu segala sesuatu nampak indah nian di mata. Katakan: Oma! Haha…

Adegan Flo, yang menurut beberapa orang tidak jelas dan tidak perlu, bagi saya penting untuk memberi pengertian tentang teori permistikan dan perdukunan yang
digemari anak-anak. Tuah Tuk Bayan Tula ternyata sangat terpuji!

Puncaknya adalah scene Cerdas Cermat dengan Lintang sebagai bintangnya. Waw, Lintang bermain bagus sekali. Chemistry dengan ayah dan adik-adiknya sempurna. Segala gestur, mimik, tutur kata, begitu memikat hati saya. Lalu klimaks saat anak jenius ini harus berpamitan dari sekolah untuk selamanya, berdiri menyangga sepeda, sama legam dan berkeringat layaknya masa kelas 1 SD-nya dulu … Hanya diam, tapi sorot matanya berbicara banyak… Ikal mengejarnya dengan mata basah… Kesedihan disini tidak diumbar berlarat-larat, tapi sebagai penonton saya terenyuh berat. Berat sekali sampai menangis.

Sinematografi film ini luar biasa, demikian juga tata musiknya. Soundtrack Nidji yang menggambarkan semangat Laskar Pelangi dengan murni menjadikan endingnya sangat puitis. Deretan isi UUD 45 pasal 31 ayat 1 yang ditampilkan sebagai penutup seakan menampar dan menghancurkan hati saya. Kapankah Indonesia bangkit?

Film ini sepotong lembaran ensiklopedi Indonesia, yang memberi inspirasi tentang kekuatan mimpi. Film terbaik hingga saat ini. A must see for everyone!

oleh: Sekarsari R. Nama :
Sekarsari R. (sarie4181@yahoo.com)

Sumber : detik.com

(Tulisan yang mewakili hatiku, namun dituturkan dengan begitu memukau)

Life Is A Beautiful Pattern

Kadang kita merasa hidup seperti gumpalan benang yang kusut. Saling membelit, semrawut, acak-acakan, tak terduga dan tampak berantakan. Alurnya membuat kita kadang lelah untuk menyusurinya. Terlebih saat kita bertemu dan mengalami kejadian tak mengenakkan, menyedihkan dan mengharu biru.

Saat tiba-tiba bertemu dengan seseorang atau satu kejadian, kita selalu berkata “AH, KEBETULAN”. Semua nampak seperti terjadi begitu saja, tak terduga,tak terencana

BENARKAH DEMIKIAN ?

Sebenarnya semua bisa terjawab hanya dengan 1 kalimat penting, dari Sang Pemilik Jagad Raya,” TIDAKLAH ALLOH CIPTAKAN SESUATU DENGAN SIA-SIA”

Ya…. Semua terjadi, adalah skenario cantik yang Alloh tebarkan di atas muka bumi.

Meski dari dekat tampak seperti benang kusut, tapi bila kita mau melihat lebih jauh, semua yang ada di bumi tak lain adalah sebuah pola Maha Cantik yang menuntun kita pada satu muara, MENGENAL ALLOH…

Masalahnya, kita mau atau tidak melihat semua itu dengan persepektif yang lebih ilahiah…. Bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi melainkan karena kehendak ALLOH.

Lalu, apa pelajaran moralnya ?

Life is about journeys….Life is about lesson….Life is about taking your faith undoubtly….

Beranilah menghadapi dunia, karena dibalik pedih, sesungguhnya ALLOH telah menyiapkan manis yang mungkin tak pernah kita sangka…

Dan yang tepenting…

BISA JADI SESUATU YANG SANGAT KITA TAKUTKAN, TERNYATA ADALAH HAL YANG BERHARGA UNTUK KITA

Egois ? Boleh Juga Sesekali

Egois…Kata yang satu ini adalah sifat yang paling susah untuk diakui seseorang. Alasannya ? Yah, apalagi kalau bukan implikasinya negatif. Sesorang paling tidak mau disebut egois, padahal kenyataannya ?

Tapi sebenarnya, egois bukanlah semata-mata sebuah sifat buruk atau kelemahan. Just like what my friend said, "Satu saat kelemahan yang kita punya, akan jadi kelebihan dan senjata." Tapi, ya tergantung sama situasi dan kondisinya. Begitu juga sebaliknya.

So, kenapa sih Alloh menyertakan sifat egois dalam salah satu perbendaharaan karakter manusia ? Karena pada satu saat tertentu, sifat egois bisa menjadi alat pertahanan diri yang paling ampuh. Tanpa rasa egois, manusia tidak akan punya kemampuan untuk survive dalam keadaan yang sulit. Inti sari dari sifat egois ini bukannya "mau menang sendiri". Disaat terjepit, rasa "ingin menang sendiri" inilah yang bisa membuat kita bertahan ? Terkesan KEJAM  ? Ah, rasanya tidak….

Selain itu, kenapa sih kaum Adam punya rasa egois yang melebihi para kaum hawa ? Ya, karena Kaum Adam nantinya adalah pemimpin keluarga yang jadi pohon yang mau tidak mau harus selalu tegak bertahan dari terjangan hidup demi keluarga. So, rasa egois mereka inilah yang membantu untuk terus tegar.

So, pelajaran moralnya apa dong?
Ya, sesungguhnya Alloh SWT tidaklah menciptakan sesuatu dengan Sia-sia.
Bila anda-anda di luar sana merasa minder karena punya banyak kelemahan, STOP sekarang juga. Karena kelemahan pada diri kita adalah juga sebagai kekuatan potensial yang belum digali.
So, BE PROUD OF OURSELVES

Ramadhan Is In The Air

Ramadhan datang. Umat berdendang. Membawa hati yang senang.
Emang asyik banget petikan lagu Tompi diatas. Walaupun dah berumur sekitar dua tahunan, tapi lagu ini masih grove buat didengarkan. Semoga kita semua memang sudah siap untuk menyambar sajian ‘mewah’ di bulan berkah ini.
Kalau memang benar-benar merindukan bulan istimewa ini, niscaya kita akan bisa menghirup aroma khas yang tak bisa didefinisikan bagaimana deskripsinya, karena bau ini tak dihirup oleh hidung, tapi oleh hati. Hebat kan ?
Hanya jenis bau-bauan surgawi macam ini saja yang tak bisa dijamah oleh indra penciuman biasa.
Tapi memang, sekali lagi, hanya orang-orang yang rindu ramadhan saja yang bisa membaui-nya. Hanya orang2 terpilih.
Apakah anda termasuk orang yang tbenar-benar merindukannya dan terpilih untuk merasakan kenikmatan sesungguhnya dari Ramadahan ini ??
Just try smell, Ramadhan Is In The Air

Naga Bonar Jadi 2, Kueren banget

Semua film dan sinetron karya Opa Dedy Mizwar semenjak hijarahnya, benar-benar bermutu !

Mulai dari Hikayat Pengembara, Lorong Waktu, Demi Masa, Kiamat Sudah Dekat, Ketika, Para Pencari Tuhan, dan sekarang Naga Bonar Jadi 2.

Memang sih, tuh film dah lama beredar. Tapi ane baru nontonnya. Selain takut ke bioskop ( gara2 isu jarum HIV), juga nunggu CD/DVD Orginalnya. Males banget beli yang bajakan, kasian Opa Dedy, dah susah2 buat film, eh dibajak. Hari gini, susah baget cari film bermutu.

Ni film lengkap banget. Mengajarkan kita untuk kembali belajar makna cinta yang lebih luas. Mulai dari cinta tanah air, cinta orang tua dan anak, cinta sesama, sampai cinta dalam melihat perbedaan.

Ni film penting banget ditonton sama generasi muda yang sudah mulai luntur rasa patriotismenya, yang mulai malu ngaku jadi bangsa Indonesia, yang sudah mulai segan menunjukkan cintanya pada orang tua.

Pas lagu syukur dikumandangkan saat Naga Bonar memberi hormat pada Soekarno, hiiii bulu kuduk langsung merinding, dan air mata mengalir tidak bisa ditahan. Merasa malu, ternyata kita belum apa-apa dibanding para pahlawan dulu.

Di film ini juga banyak sindiran-sindiran dan nasehat yang disampaikan dengan rasa berbeda, tanpa menggurui, dan menyentil. Membuat kita tersadarkan, betap sesungguhnya kita masih perlu banyak belajar tentang hakikat cinta yang sesungguhnya.

Film ini wajib ditonton. Ada begitu banyak pelajaran dan hikmah yang tersirat di dalamnya. Ah…coba saja film-fim Indonesia seramah dan sebermakna seperti ini. Dan bukannya film dan sinetron yang isinya sampah melulu.

Bisa Apa dengan Pemilu Jujur ?

          Pemilu. Lagi-lagi Pemilu. Jika selama 33 tahun, Pemilu adalah ‘barang mahal’ yang hanya bisa dirasakan setiap 5 tahun sekali secara serempak. Kini, malah jadi makanan yang kerap kita makan, dengar dan lihat. Mulai dari pemilu legislatif, kemudian pemilu presiden yang 2 putaran, lalu kini menyusul Pilkada Walikota, dan beberapa tahun yang akan datang menyusul Pilkada Gubernur. Jika dihitung-hitung dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun, warga Samarinda sudah bolak-balik ke TPS hampir 4 kali ! Sebuah angka yang fantastis untuk selang waktu 2 tahun.  Terutama bagi Indonesia yang baru belajar untuk bisaberdemokrasi elegan dan terhormat.

            Pemilu kini beda dengan pemilu dulu. Dahulu kita hanya bisa menggantungkan figur pemimpin pada kemurahan hati para wakil rakyat yang duduk di dewan. Tapi sayangnya, nurani mereka terlalu murah untuk dibeli hanya dengan segepok uang. Itu juga mengapa selama berpuluh-puluh tahun, bangsa Indonesia mengalami pembodohan tentang apa itu politik, tentang arti mahalnya setiap suara untuk perubahan. Politik dibungkam, Islam diberangus.  Dan kini kita harus membayar mahal . Mahal dengan semua kebrobokan di setiap sendi. Kita ibarat tubuh yang telah digerogoti dengan kanker akut di setiap jaringan. Nyaris tak bisa ditolong, jika tak punya komitmen yang kuat untuk sembuh. Kuat dalam menerima penyembuhan paling sakit dan menderita sekalipun. Salah satunya adalah dengan memperjuangkan hak suara yang mahal ini kepada yang benar-benar peduli pada rakyat.

            Ada hal menarik yang patut untuk dicermati. Antusiasme masyarakat yang pada awal Pemilu legislatif begitu tinggi, semakin lama semakin menyurut. Terutama dalam Pilkada akhir-akhir ini. Berdasarkan data pada Pilkada yang telah dilakukan di daerah-daerah lain, pemilih berkurang antara 30-40 %. Ini adalah angka yang sangat besar. Ada apa dengan rakyat ? Sudah merasa lelahkah mereka dengan rangkaian pemilu yang begitu panjang ? Ataukah rasa ketidakpercayaan lagi pada janji perubahan yang diusung sebuah ajang bernama Pilkada ?

            Stereotipe masyarakat Indonesia adalah serba instan dan oportunis. Itulah mengapa budaya nepotisme, korupsi dan kolusi tumbuh begitu subur. Itu pula yang menjadi alasan utama mengapa money politik dalam setiap pemilu selalu jadi isu utama. Karena ‘kebanyakan’ masyarakat ingin mendapat keuntungan cepat. Siapa yang memberi uang dan keuntungan lebih dahulu, ia yang dipilih. Tak peduli uangnya diambil darimana. Tak ambil pusing dengan nasibnya 5 tahun kedepan. Jika kelak setelah menjabat mengecewakan, maka sikap skeptis akan muncul dari masyarakat. Lalu kemudian jadi apatis pada dinamika politik, termasuk pemilu. Begitu terus, seperti lingkaran setan.

Ini adalah permasalahan serius. Karena dengan sistem seperti ini, hanya akselerasi sistematika politik saja yang mengalami percepatan, bukan dalam hal pemahamannya. Ini  juga yang membuat para calon pemimpin yang benar-benar berkompeten, amanah dan bervisi yang jelas untuk mensejahterakan rakyat, sulit untuk muncul. Karena belum apa-apa, masyarakat sudah keburu menolak dan mencap jelek.

            Kita harus jujur mengakui, bahwa kita sedang sakit. Sakit dalam hal kepercayaan dan kesabaran. Susah untuk percaya dengan figur jujur, karena terlalu sering dibohongi. Susah untuk bersabar menanti setiap perubahan yang memang berjalan lambat. Lalu apa yang apa yang harus dilakukan ?

            Satu-satunya jawaban adalah Pemilu yang jujur. Jujur dalam segala hal. Mulai dari kampanye yang jujur dan elegan. Pencoblosan yang jujur dengan nurani yang bersih. Perhitungan yang jujur, lepas dari intervensi pihak-pihak lain. Pengumuman hasil yang jujur dan bertanggung jawab. Serta jujur dalam menerima segala keputusan. Dengan segala kejujuran dalam proses ini, Insya Allah, Samarinda akan mendapat pemimpin yang jujur dan berpihak penuh pada rakyat. Dengan demikian, mudah-mudahan kesejahteraan ummat di tanah yang kaya ini bisa seperti saat zaman Khalifah dahulu. Semoga saja.

            Tajamkan mata, pasang kuping lebar-lebar dan bersihkan nurani. Waspada pada setiap kecurangan dan kebohongan. Karena  dengan pemilu jujur, kita bisa mendapat banyak. Banyak sekali.

Bersyukurlah…. Idul Fitri Milik Semua

Bersyukurlah …

Ketika malam kumandang takbiran kita dapat menangis sedih karena akan segera meninggalkan Ramadhan yang mulia. Karena hanya orang2 yang hatinya penuh dengan kecintaan pada Allah SWT sajalah yang dapat mengalaminya

Bersyukurlah …

Ketika kita dapat merekah senyum saat menyerahkan segenggam zakat kepada amil. Karena hanya orang2 yang berhati lapang sajalah yang mampu melakukannya

Bersyukurlah …

Ketika pada Idul Fitri ini kita bisa bercengkrama bahagia bersama orang2 terdekat. Karena ada begitu banyak orang di luar sana yang hanya bertemankan sepi dan  dingin, kehilangan  orang tersayang dan berada jauh ratusan kilometer dari sebuah kehangatan bernama KELUARGA

Bersyukurlah ….

Ketika kita bisa merayakan Idul Fitri di tempat bernama rumah. Berapapun ukurannya. Karena di luar sana ada banyak orang yang kehilangan kenyamanan sebuah tempat berlindung karena lumpur panas, longsor, timbunan sampah, gempa dan kebakaran.

Bersyukurlah …

Ketika kita bisa berjalan riang ke masjid2 untuk melaksanakan Sholat Ied. Karena ada banyak orang di luar sana yang terbaring sakit, tergolek lumpuh, dan terbujur kaku  2 meter dibawah tanah yang tak dapat mencicipi nikmatnya hari kemenangan

Bersyukurlah …

Meski tak punya baju baru. Meski tak  punya banyak kue. Meski tak bisa jalan2. Meski rumah tak bercat baru. Karena kita sudah punya banyak kekayaan yang mengalahkan seluruh isi dunia. Hati yang bersih karena Ramadhan. Harta yang barokah karena zakat. Keluarga yang utuh karena kebersamaan. Kesehatan yang menghidupkan karena kemurahan Allah SWT.

Semoga kita mampu bersyukur untuk setiap tetes nikmat yang berserakan disekitar kita.

Idul Fitri adalah milik semua  orang yang menghidupkan ramadhan dengan penuh seluruh

Selamat merayakan hari kemenangan, Saudaraku….

                                                                                                   

Lailatul Qadar, apaan sih ciri2nya?

Apa sih tanda-tanda malam Lailatul Qadar itu ?

1. Suasana malam hening dan sunyi. Tidak ada satu suarapun. Bahkan suara jangkrik, kodok, anjingpun tak terdengar. Anginpun tak berhembus. Semua hening dan tenang

2. Pada pagi harinya, matahari bersinar lembut. Tidak terasa panas dan seakan2 tertutup mendung

Apa sih, tanda2 orang yang merasakan Lailatul Qadar ?

1. Pada pagi harinya, ia merasakan ketenangan luar biasa. Segala beban hidup seakan tak terasa. Punya motivasi dan keberanian hidup untuk menghadapi hidup kedepan

2. Perilakunya menjadi lebih baik. Jadi susah untuk melakukan maksiat, karena hatinya telah diterangi oleh nur Allah.

Meskipun telat, ngga apa2 ya… dibanding ga ada.

Lailatul Qadar. Kenali tanda2nya. Raih keutamaannya. Nikmati keberkahannya.

Selamat berjuang, Saudaraku …

TV yang Tak Lagi Bersahabat dengan Ramadhan

Ramadhan di TV tahun ini begitu gersang, kering dan tak bersahabat

Acara-acara yang mencerdaskan akal, mematangkan nurani dan mengkritik sikap  nihil menghilang. Tak lagi nampak hilir mudik pelakon televisi yang berbusana muslim.Tak ada lagi acara sahur yang menyejukkan hati macam Mereka masih saudara kita, Sahur Kita, Jalan Lain Kesana, ataupun hikayat pengembara

Tak ada lagi sinetron berbuka yang bermutu dan cerdas macam Jendela hati Bu Senyum, Demi Masa, PadaMu aku bersimpuh, dll. Semua sinetron isinya tentang penyiksaan, tentang kepasrahan menerima hinaan dan penindasan, pelaziman sinetron yang bersetting Ramadhan adalah tentang cobaan yang yang tak berkesudahan. lantas dimana keindahan Islam yang beraneka warna itu ? yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan menjadi rahmat buat sekalian alam.

Memang, sinetron macam Lorong Waktu 6 masih ada. Tapi, waktu penayangannya hanya 1 kali seminggu, itupun diatas jam 9 yang bukan prime time. Juga untuk sinetron Kiamat sudah dekat 2.

Memang masih ada yang menayangkan tayangan bermutu, seperti Metro TV dengan Tafsir Al Misbah dan Ensiklopedia Islam, Global Tv dengan Taman Ramadhannya, La Tivi dengan Grebeg ustad dan Pildacil best of  The best,  TV 7 dengan khasanah ramadhannya. Tapi, ya cuma itu. Bandingkan dengan acara gosip yang jam tayangnya 5 kali sehari !!!  Bahkan ceramah-ceramah ditayangkan diatas pukul 10 malam, yang pasti bukan jam nonton untuk anak2. So….?

Sedih…. karena kini TV memegang peranan penting dalam pembentukan karakter anak. Jika acara TV nya saja begitu tidak bersahabat dengan anak, mau jadi apa mereka nanti.

Acara  menyambut sahur dan berbuka betul2 minim nilai Islam. Mulai dari pakaian sampai ke tema acara dan bahkan dialog tokoh-tokohnya yang kadang menyumpah serapah. Ah… sedih…

Ramadhan di TV tak lagi sesejuk dulu. Tak lagi bersahabat. Tak lagi bernurani seperti dulu….

Mukaddimah

Assalammu’alaikum

Hidup adalah tentang proses belajar yang tiada pernah henti
Jika sudah lelah untuk belajar dan jatuh tersungkur, artinya kita sudah mati secara ruh.

Karena itulah, saya membenci orang begitu malas untuk berfikir tentang makna hidup yang sedang ia jalani, begitu takut untuk melompati parit rintangan, begitu kerdil untuk mengakui bahwa Dzat yang Maha Diatas Segalanya adalah Pengatur segala yang hidup dan tak hidup.

Saya juga amat membenci orang yang begitu mudah menghakimi tanpa melihat lebih dalam dan jelas. Sekedar justifikasi berdasarkan masukan sepihak. Karena saya percaya, hidup adalah tentang aneka warna yang bertebaran. Tak peduli dari manapun datangnya, semua semata-mata untuk membuat manusia lebih pintar bersyukur. Lebih bijak berbuat. Dan lebih takut untuk ingkar pada Allah.

Wallu’alam bi shawab