Bisa Apa dengan Pemilu Jujur ?
Pemilu. Lagi-lagi Pemilu. Jika selama 33 tahun, Pemilu adalah ‘barang mahal’ yang hanya bisa dirasakan setiap 5 tahun sekali secara serempak. Kini, malah jadi makanan yang kerap kita makan, dengar dan lihat. Mulai dari pemilu legislatif, kemudian pemilu presiden yang 2 putaran, lalu kini menyusul Pilkada Walikota, dan beberapa tahun yang akan datang menyusul Pilkada Gubernur. Jika dihitung-hitung dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun, warga Samarinda sudah bolak-balik ke TPS hampir 4 kali ! Sebuah angka yang fantastis untuk selang waktu 2 tahun. Terutama bagi Indonesia yang baru belajar untuk bisaberdemokrasi elegan dan terhormat.
Pemilu kini beda dengan pemilu dulu. Dahulu kita hanya bisa menggantungkan figur pemimpin pada kemurahan hati para wakil rakyat yang duduk di dewan. Tapi sayangnya, nurani mereka terlalu murah untuk dibeli hanya dengan segepok uang. Itu juga mengapa selama berpuluh-puluh tahun, bangsa Indonesia mengalami pembodohan tentang apa itu politik, tentang arti mahalnya setiap suara untuk perubahan. Politik dibungkam, Islam diberangus. Dan kini kita harus membayar mahal . Mahal dengan semua kebrobokan di setiap sendi. Kita ibarat tubuh yang telah digerogoti dengan kanker akut di setiap jaringan. Nyaris tak bisa ditolong, jika tak punya komitmen yang kuat untuk sembuh. Kuat dalam menerima penyembuhan paling sakit dan menderita sekalipun. Salah satunya adalah dengan memperjuangkan hak suara yang mahal ini kepada yang benar-benar peduli pada rakyat.
Ada hal menarik yang patut untuk dicermati. Antusiasme masyarakat yang pada awal Pemilu legislatif begitu tinggi, semakin lama semakin menyurut. Terutama dalam Pilkada akhir-akhir ini. Berdasarkan data pada Pilkada yang telah dilakukan di daerah-daerah lain, pemilih berkurang antara 30-40 %. Ini adalah angka yang sangat besar. Ada apa dengan rakyat ? Sudah merasa lelahkah mereka dengan rangkaian pemilu yang begitu panjang ? Ataukah rasa ketidakpercayaan lagi pada janji perubahan yang diusung sebuah ajang bernama Pilkada ?
Stereotipe masyarakat Indonesia adalah serba instan dan oportunis. Itulah mengapa budaya nepotisme, korupsi dan kolusi tumbuh begitu subur. Itu pula yang menjadi alasan utama mengapa money politik dalam setiap pemilu selalu jadi isu utama. Karena ‘kebanyakan’ masyarakat ingin mendapat keuntungan cepat. Siapa yang memberi uang dan keuntungan lebih dahulu, ia yang dipilih. Tak peduli uangnya diambil darimana. Tak ambil pusing dengan nasibnya 5 tahun kedepan. Jika kelak setelah menjabat mengecewakan, maka sikap skeptis akan muncul dari masyarakat. Lalu kemudian jadi apatis pada dinamika politik, termasuk pemilu. Begitu terus, seperti lingkaran setan.
Ini adalah permasalahan serius. Karena dengan sistem seperti ini, hanya akselerasi sistematika politik saja yang mengalami percepatan, bukan dalam hal pemahamannya. Ini juga yang membuat para calon pemimpin yang benar-benar berkompeten, amanah dan bervisi yang jelas untuk mensejahterakan rakyat, sulit untuk muncul. Karena belum apa-apa, masyarakat sudah keburu menolak dan mencap jelek.
Kita harus jujur mengakui, bahwa kita sedang sakit. Sakit dalam hal kepercayaan dan kesabaran. Susah untuk percaya dengan figur jujur, karena terlalu sering dibohongi. Susah untuk bersabar menanti setiap perubahan yang memang berjalan lambat. Lalu apa yang apa yang harus dilakukan ?
Satu-satunya jawaban adalah Pemilu yang jujur. Jujur dalam segala hal. Mulai dari kampanye yang jujur dan elegan. Pencoblosan yang jujur dengan nurani yang bersih. Perhitungan yang jujur, lepas dari intervensi pihak-pihak lain. Pengumuman hasil yang jujur dan bertanggung jawab. Serta jujur dalam menerima segala keputusan. Dengan segala kejujuran dalam proses ini, Insya Allah, Samarinda akan mendapat pemimpin yang jujur dan berpihak penuh pada rakyat. Dengan demikian, mudah-mudahan kesejahteraan ummat di tanah yang kaya ini bisa seperti saat zaman Khalifah dahulu. Semoga saja.
Tajamkan mata, pasang kuping lebar-lebar dan bersihkan nurani. Waspada pada setiap kecurangan dan kebohongan. Karena dengan pemilu jujur, kita bisa mendapat banyak. Banyak sekali.