Laskar Pelangi: Sepotong Ensiklopedi dan Potret Mimpi-Mimpi
Setelah Nagabonar Jadi 2, inilah film lokal paling spektakuler bagi saya. Ruh semangat pantang menyerah untuk sekolah, yang bagi masyarakat miskin hanyalah mimpi tak-terwujudkan. Di film ini dilukiskan penuh gelora, murni, syahdu dan inspiratif. Kisah ini membalikkan prediksi manusia atas nasib, bahwa mimpi bukanlah sesuatu yang mengawang-awang saja, tapi bisa diwujudkan dengan tekad yang kuat. Potret jatuh bangun 10 anak-anak miskin Melayu dan guru-gurunya yang luar biasa adalah cermin betapa digdayanya negara ini sebenarnya.
Pembukaan film berupa narasi tokoh Ikal yang telah dewasa (Lukman Sardi) saat ia pulang ke tanah kelahirannya, Kampong Gantong, Belitong. Ia melayangkan pikiran menuju kenangan tak terlupakan di masa kecilnya dulu, yakni hari pertamanya masuk SD. Saat itu suasana harap-harap cemas tampak di SD Muhammadiyah, sekolah harapan terakhir kaum marjinal Gantong bagi anak-anak mereka. Masih kurang 1 orang murid lagi untuk menggenapi jumlah 10 sesuai ketentuan Dinas Pendidikan setempat, atau sekolah tersebut harus ditutup. Lalu keajaiban terjadi ketika seorang anak cacat mental Harun, masuk sekolah itu dan menyelamatkan mereka semua. 5 tahun kemudian, berbagai peristiwa luar biasa mengoreskan tekad di hati seorang Ikal untuk berjuang meraih pendidikan.
Film ini diangkat dari novel mega best-seller berjudul sama yang ditulis Andrea Hirata sebagai semi-memoar perjalanan hidupnya. Riri Riza dan Mira Lesmana menyederhanakan bahasa novelnya agar film ini dapat dinikmati pula oleh anak-anak. Hal tersebut merupakan suatu keputusan tepat, walaupun beberapa pihak mengatakan film ini memangkas keindahan novelnya. Bagi Andrea, proyek ini bukan bertujuan sekedar mengangkat novel ke film, melainkan untuk memperluas jangkauan massa dalam menikmati dan mengambil hikmah kisah ini. Karena film adalah media yang lebih universal daripada buku, sebuah karya sastra pula! Bagi saya, sebagai penderita penyakit gila no.13, yaitu obsesif-kompulsif pada novel Laskar Pelangi, cukup puas dengan film ini. Ada beberapa kekurangan memang, tapi kelebihan dan keindahannya menyingkirkan pikiran skeptis tersebut.
Keputusan Miles Production mengambil aktor cilik asli dari Belitong sangat tepat. Salut dan sungguh salut untuk trio Ikal (Zulfanny),Mahar (Verrys) dan Lintang (Verdian) yang bermain sangat-sangat bagus. Mereka masuk dalam karakter masing-masing dengan luwes, alami, brilian! Cut Mini sebagai Bu Muslimah dan Ikranegara sebagai Pak Harfan bermain sepenuh jiwa. Mereka telah menitipkan sebagian hatinya di Belitong.
Adapun karakter-karakter tambahan disini, Pak Zulkarnaen (Slamet Rahardjo) dan Bakri (Teuku Rifki Wikana), bermain bagus dan tujuan keberadaan karakternya jelas. Lain halnya dengan Tora Sudiro, yang bila ditiadakan justru menambah nilai film ini. Alex Komang (ayah Lintang) yang mucul tidak lebih dari 4 scene bermain ciamik. Begitu pula dengan Jajang C. Noer (istri Pak Harfan), Rieke Dyah Pitaloka (ibu Ikal) dan Ario Bayu (Lintang dewasa), mereka bagus. Namun Mathias Muchus (ayah Ikal) bagi saya masih terlalu intelek sebagai seorang kuli timah.
Saya mencatat kelemahan ada pada pemeran Sahara, A Kiong, dan Flo. Untunglah peran mereka tidak signifikan sehingga tertutup oleh anak-anak yang lain. Pemeran Kucai, Borek, Syahdan dan Trapani, yang memang tidak ditonjolkan untuk membuat cerita terfokus pada Ikal-Lintang-Mahar, bermain bagus. Salut!
Ada kekurangan pada eksekusi adegan karnaval 17 Agustus, terkesan kurang megah. Namun jalan untuk sampai pada pertunjukan ini, terutama tingkah ganjil Mahar mencari inspirasi berhasil mengocok perut. Mahar bermain sangat cool, sombong, tapi tetap loveable. Jatuh cinta saya dengan trade-mark ’Boi’-nya. Love it! Oya, jangan lewatkan adegan ’Bunga Seroja’ disini. Improvisasi yang lucu tiada tara!
Applaus untuk Ikal, yang menurut pengakuannya sendiri bahwa adegan tersulitnya adalah ’pacaran dengan A Ling’, justru menurut saya sangat berhasil. Saya sebenarnya tidak terlalu respek dengan bab ini di novelnya, tapi di film, ini adalah salah satu part favorit saya. Segala unsur untuk membuat sang ’kuku cantik’ jadi lebay, sah-sah saja kiranya, karena memang bagi Ikal yang jatuh cinta. Saat itu segala sesuatu nampak indah nian di mata. Katakan: Oma! Haha…
Adegan Flo, yang menurut beberapa orang tidak jelas dan tidak perlu, bagi saya penting untuk memberi pengertian tentang teori permistikan dan perdukunan yang
digemari anak-anak. Tuah Tuk Bayan Tula ternyata sangat terpuji!
Puncaknya adalah scene Cerdas Cermat dengan Lintang sebagai bintangnya. Waw, Lintang bermain bagus sekali. Chemistry dengan ayah dan adik-adiknya sempurna. Segala gestur, mimik, tutur kata, begitu memikat hati saya. Lalu klimaks saat anak jenius ini harus berpamitan dari sekolah untuk selamanya, berdiri menyangga sepeda, sama legam dan berkeringat layaknya masa kelas 1 SD-nya dulu … Hanya diam, tapi sorot matanya berbicara banyak… Ikal mengejarnya dengan mata basah… Kesedihan disini tidak diumbar berlarat-larat, tapi sebagai penonton saya terenyuh berat. Berat sekali sampai menangis.
Sinematografi film ini luar biasa, demikian juga tata musiknya. Soundtrack Nidji yang menggambarkan semangat Laskar Pelangi dengan murni menjadikan endingnya sangat puitis. Deretan isi UUD 45 pasal 31 ayat 1 yang ditampilkan sebagai penutup seakan menampar dan menghancurkan hati saya. Kapankah Indonesia bangkit?
Film ini sepotong lembaran ensiklopedi Indonesia, yang memberi inspirasi tentang kekuatan mimpi. Film terbaik hingga saat ini. A must see for everyone!
oleh: Sekarsari R. Nama :
Sekarsari R. (sarie4181@yahoo.com)
Sumber : detik.com
(Tulisan yang mewakili hatiku, namun dituturkan dengan begitu memukau)